Bolehkah Praktek Bayi Tabung dalam Kajian Fiqih Islam?

Bolehkah Praktek Bayi Tabung dalam Kajian Fiqih Islam?

Bayi tabung merupakan sebuah istilah yang sudah lama kita dengar selama ini. Keberadaan praktek bayi tabung memang sudah banyak dilakukan kalangan masyarakat kita, terlebih bagi orang tua yang sudah lama belum dikaruniai anak.

Berkembangnya teknologi kedokteran saat inilah yang sebenarnya menjadi muara ketika kita berbicara bayi tabung, baik dalam ranah hukum fiqih diperbolehkannya atau tidak. Selain daripada itu, faktor kebutuhan para orang tua yang belum dikaruniai anak membuat para ilmuwan terus mengembangkan ilmu kedokteran, sampai akhirnya kita bisa melihat secara langsung hasilnya seperti sekarang ini.

Sinkroniasi hubungan yang demikian tadi, sebenarnya dalam kajian fiqih islam apakah memang relevan?

Mengingat, banyak sekali kalangan Civitas Akademika yang mempertanyakan, meragukan dan menggugat relevansi Fiqh klasik (lebih dekat dengan kitab kuning) dalam merespon problematika kontemporer. Mereka menganggap kitab kuning sebagai hal yang primitif, kolot, ketinggalan jaman dan tidak up to date.

Mereka menganggap kitab kuning akan bungkam dan tidak akan bisa berkutik untuk menjawab problematika mutakhir semacam suntik suplemen bagi orang puasa, suntik wanita haji untuk menunda haid, fenomena bayi tabung dan lain sebagainya. Benarkah tuduhan mereka? Tentu tergantung mampukah kita, komunitas santri menjawab tiga pertanyaan yang mereka contohkan tersebut dengan referensi kitab kuning.

Baca juga: Hukum memakai mukena (rukuh) potongan saat sholat

Hukum Praktek Bayi Tabung dalam Kajian Fiqih Islam

Berdasarkan hasil bahtsul masail LBM NU Kabupaten Sragen, bahwa hukum melakukan praktek bayi tabung (baik orang yang membantu pelaksanaan atau pelaku) ternyata diperbolehkan. Namun hal itu boleh dilakukan dengan memenuhi dua syarat, seperti:

  1. Asalkan sperma (air mani) tersebut milik suami dari wanita yang melakukan proses bayi tabung.
  2. Sperma (air mani) tersebut keluar dengan cara yang muhtaram (tidak dengan cara yang diharamkan syariat), yakni keluar dengan sendirinya atau keluar melalui perantara istrinya.

Hal ini berdasarkan dari dalil berikut ini:

حاشية الجمل – (ج 19 / ص 130)   المكتبة الشاملة

قَوْلُهُ : مَنِيُّهُ الْمُحْتَرَمُ ) الْعِبْرَةُ فِي الِاحْتِرَامِ بِحَالِ خُرُوجِهِ فَقَطْ حَتَّى إذَا خَرَجَ مِنْهُ مَنِيٌّ بِوَجْهٍ مُحْتَرَمٍ كَمَا إذَا عَلَا عَلَى زَوْجَتِهِ فَأَخَذَتْهُ أَجْنَبِيَّةٌ عَالِمَةٌ بِأَنَّهُ مَنِيُّ أَجْنَبِيٍّ وَاسْتَدْخَلَتْهُ فَهُوَ مَنِيٌّ مُحْتَرَمٌ تَجِبُ بِهِ الْعِدَّةُ وَالْوَلَدُ مِنْهُ حُرٌّ نَسِيبٌ وَلَوْ سَاحَقَتْ امْرَأَتُهُ الَّتِي نَزَلَ فِيهَا مَاؤُهُ امْرَأَةً أَجْنَبِيَّةً فَخَرَجَ مَاؤُهُ مِنْهَا وَنَزَلَ فِي الْأَجْنَبِيَّةِ فَهُوَ مُحْتَرَمٌ ، وَالْوَلَدُ لْمُنْعَقِدُ مِنْهُ وَلَدُهُ ، وَلَوْ اسْتَنْجَى بِحَجَرٍ فَخَرَجَ مِنْهُ مَنِيٌّ عَلَى الْحَجَرِ فَأَخَذَتْهُ امْرَأَةٌ عَمْدًا وَاسْتَنْجَتْ بِهِ فَدَخَلَ مَا عَلَيْهِ فَرْجَهَا فَهُوَ مُحْتَرَمٌ . ا هـ م ر

(إعانة الطالبين – (ج 4 / ص 38

ويشترط في ثبوت العدة وطء الزوج لها ولا بد أن يكون الواطىء ممن يمكن وطؤه كصبي تهيأ له وأن تكون ممن يمكن وطؤها ومثل الوطء إدخال منيه المحترم حال خروجه وحال دخوله على ما اعتمده ابن حجر وحال خروجه فقط وإن لم يكن محترما حال دخوله على ما اعتمده م ر وذلك كما إذا احتلم الزوج وأخذت الزوجة منيه وأدخلته فرجها ظانة أنها مني أجنبي فإن هذا محترم حال الخروج وغير محترم حال الدخول وتجب به العدة إذا طلقت الزوجة بعده وقبل الوطء على معتمد الثاني دن الأول لأنه اعتبر أن يكون محترما في الحالين

(حاشية الشرقاوي (ج 2/ ص 329

(قوله محترم) اي حال خروجه ….. وكما لو خرج منه باحتلام فأدخلته زوجته على ظن انه ماء أجنبي فيحرم عليها وتلزمها العدة .

Demikian sekilas informasi mengenai Hukum Praktek Bayi Tabung dalam Kajian Fiqih Islam. Semoga bermanfaat, salam.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *