About UsApa LTN NU itu?

Hukum I’tikaf bagi Wanita. Apakah Harus Izin Suami?

Perempuan/wanita memiliki hak untuk menjalankan ibadah itikaf. Hal ini didasarkan pada hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim melalui Sayyidatina Aisyah RA sebagai berikut:

وَعَنْهَا: – أَنَّ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَعْتَكِفُ اَلْعَشْرَ اَلْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ, حَتَّى تَوَفَّاهُ اَللَّهُ, ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Artinya, “Dari Aisyah RA, Nabi Muhammad SAW beritikaf pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan. Aktivitas itu dilakukan hingga beliau wafat. Kemudian para istrinya mengikuti itikaf pada waktu tersebut sepeninggal Rasulullah SAW,” (HR Bukhari dan Muslim).

Adapun perihal izin suami dalam kaitannya dengan kesahihan itikaf, ulama berbeda pendapat. Ulama dari Mazhab Hanafi, Syafi’i, dan Hanbali menyatakan bahwa izin suami menjadi syarat itikaf istrinya. Dengan demikian, ibadah itikaf perempuan tanpa izin suaminya tidak sah. Adapun pendapat Mazhab Maliki menyatakan bahwa itikaf seorang perempuan tanpa izin suaminya tetap sah karena izin suami bukan bagian dari syarat ibadah itikaf itu sendiri.

إذن الزوج لزوجته: شرط عند الحنفية والشافعية والحنابلة، فلا يصح اعتكاف المرأة بغير إذن زوجها، ولو كان اعتكافها منذوراً. ورأى المالكية أن اعتكاف المرأة بغير إذن زوجها صحيح مع الإثم

Artinya, “Izin suami atas istrinya menjadi syarat (itikaf) menurut mazhab Hanafi, Syafi’i, dan Hanbali. Itikaf perempuan tidak sah tanpa izin suaminya meski itu adalah itikaf nazar. Sedangkan mazhab Maliki berpendapat bahwa itikaf seorang permepuan tanpa izin suaminya tetap sah meski dosa,” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, [Beirut, Darul Fikr: 1985 M/1405 H], cetakan kedua, juz II, halaman 706).

Adapun perihal penghentian itikaf oleh suami, para ulama berbeda pendapat. Mayoritas ulama berpendapat bahwa seorang suami boleh meminta istrinya untuk menghentikan ibadah itikafnya meski telah izin sebelumnya.

Adapun Imam Malik mengatakan bahwa seorang suami tidak berhak untuk meminta istrinya menghentikan ibadah itikaf ketika istrinya telah meminta izin sebelumnya sebagaimana dikutip dari pernyataan Syekh Hasan Sulaiman An-Nuri dan Syekh Alawi Abbas Al-Maliki berikut ini.

والجمهور على جواز منع زوجها لها من الاعتكاف بعد الإذن وقال مالك ليس له المنع بعد الإذن

Artinya, “Mayoritas ulama membolehkan seorang menahan istrinya untuk itikaf meski sudah izin sebelumnya. Sementara Imam Malik berpendapat bahwa seorang suami tidak berhak menahan istrinya untuk itikaf setelah istrinya mengajukan izin sebelumnya,” (Lihat Syekh Hasan Sulaiman An-Nuri dan Syekh Alawi Abbas Al-Maliki, Ibanatul Ahkam, [Beirut, Darul Fikr: 1996 M/1416 H], cetakan pertama, juz II, halaman 340).

Kami menyarankan pasangan suami dan istri untuk membicarakan baik-baik perihal ibadah itikaf yang direncanakan oleh istrinya. Keduanya juga perlu mempertimbangkan prioritas rumah tangganya di 10 akhir Ramadhan. Pasalnya, ibadah itikaf tidak memungkinkan seseorang untuk keluar dari masjid.

Reaksi Nabi Muhammad Melihat Istrinya Berkemah untuk I’tikaf Tanpa Izin

Salah satu ibadah yang digiatkan Nabi Muhammad saw. saat bulan Ramadhan adalah i’tikaf (berdiam di dalam masjid dengan niat beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah). Terlebih pada 10 hari terakhir bulan suci tersebut. Beliau lebih giat lagi karena pada waktu-waktu itu lah, lailatul qadar terjadi.

Lailatul qadar (malam seribu bulan) adalah malam yang paling mulia. Bahkan, ia lebih mulia dibanding seribu bulan sekalipun. Barang siapa yang beribadah pada malam lailatul qadar, maka ia akan mendapatkan pahala lebih dari 1000 bulan atau 84 tahun. Oleh sebab itu, Allah merahasiakan waktu lailatul qadar agar manusia berlomba-lomba beribadah untuk mendapatkannya. Salah satu ibadah yang biasa dilaksanakan umat Islam untuk menyambut lailatul qadar adalah i’tikaf.

Ada cerita menarik dari Nabi Muhammad tentang i’tikaf di bulan Ramadhan. Suatu ketika, setelah melaksanakan Shalat Subuh Nabi Muhammad kembali ke tempat i’tikafnya di Masjid Nabawi. Sayyidah Aisyah mencegat Nabi sebelum beliau kembali beri’tikaf. Dia lantas meminta izin Nabi Muhammad agar diperbolehkan melaksanakan i’tikaf. Beliau mengizinkan. Sayyidah Aisyah gembira dan langsung mendirikan kemah untuk i’tikaf di halaman Masjid Nabawi. 

Istri Nabi yang lainnya, Sayyidah Hafshah bin Umar bin Khattab juga tertarik melakukan i’tikaf setelah melihat Sayyidah Aisyah. Dia kemudian mendirikan kemah untuk i’tikaf di samping kemahnya Sayyidah Aisyah ,tanpa izin terlebih dahulu dengan Nabi. Dua istri Nabi lainnya juga mengikuti jejak Sayyidah Aisyah dan Sayyidah Hafshah. Juga tanpa izin dari Nabi Muhammad.

Usai subuh keesokan harinya, Nabi Muhammad kaget melihat ada empat kemah di halaman Masjid Nabawi. Beliau kemudian menanyakan miliki siapa saja kemah-kemah itu. Merujuk buku Pesona Ibadah Nabi (Ahmad Rofi’ Usmani, 2015), Nabi Muhammad kemudian meminta agar kemah-kemah itu dipindahkan setelah mengetahui kalau itu adalah milik istri-istrinya untuk beri’tikaf. Tidak hanya itu, Nabi Muhammad juga tidak melanjutkan i’tikafnya. Beliau melanjutkan i’tikafnya pada 10 hari bulan Syawal.

Demikianlah sikap Nabi Muhammad saat istrinya beri’tikaf. Beliau mengizinkan ketika Sayyidah Aisyah meminta izin untuk ber’itikaf. Namun, saat ada istrinya yang tidak izin untuk beribadah i’tikaf maka beliau memiliki sikap lain. Oleh sebab itu, izin dari seorang suami juga menjadi sesuatu yang harus diperhatikan manakala seorang istri hendak melaksanakan ibadah i’tikaf. Yang perlu digarisbawahi, sesuai dengan kisah di atas, wanita sebetulnya memiliki hak untuk ber’itikaf. Asal mendapatkan izin dari suami. 

Hal itu juga ditegaskan Syekh Hasan Sulaiman An-Nuri dan Syekh Alawi Abbas Al-Maliki dalam kitabnya Ibanatul Ahkam. Di situ disebutkan: “Boleh i’tikaf perempuan di masjid dengan izin suami bila tidak dikhawatirkan terjadi fitnah.” Wallahu ‘Alam

Demikian sekilas informasi mengenai perihal Hukum I’tikaf bagi wanita/perempuan. Semoga bermanfaat, salam.

Sumber

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *