Koin NU, Solusi Utama Arus Baru Kemandirian Ekonomi Nusantara

KOIN NU, Solusi Utama Arus Baru Kemandirian Ekonomi Nusantara

Oleh: Nur Rohman*

Organisasi Nahdlatul Ulama (NU) didirikan atas tiga pilar, yaitu Nahdlatul Wathan (Gerakan Cinta Tanah air), Tashwirul Afkar (Gerakan Intelektual) dan Nahdlatut Tujjar (Gerakan Ekonomi). Oleh karena itu, semangat yang dibawa oleh NU tidak hanya berkutat soal jihad nasionalisme, jihad pendidikan, namun juga jihad ekonomi. Karena tidak bisa dipungkiri warga Nahdliyin yang berada di bawah akar rumput perlu untuk didorong pada ketiga hal tersebut, terutama penguatana perihal berdaya di bidang ekonomi.

Menuju 100 tahun berdirinya NU, sudah semestinya warga Nahdliyin di setiap kalangan merasakan angin segar di bidang ekonominya. Hal itulah yang diupayakan oleh NU Care LAZISNU untuk mewujudkan arus baru kemandirian ekonomi  Nusantara.

Sebetulnya jihad ekonomi sudah mulai digulirkan sejak masa Rais Akbar Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari yang mengeluarkan maklumat no. 7 tahun 1936 yang kemudian dilanjutkan oleh KH Mahfudz shiddiq yang mendirikan Syirkah Muawanah (koperasi) di setiap PCNU.

Kebangkitan ekonomi NU akan terus berkembang seperti yang pernah diungkapkan oleh mantan Ketua Umum PBNU KH Abdurrahman Wahid (periode 1984-1999) kepada Ketua PCNU Sreagen KH Ma’ruf Islamuddin. “Mbesok sampeyan titeni, kebangkitan NU nanti akan dimulai dari Sragen.” Pesan itu disampaikan kepada KH. Ma’ruf Islamudin, beberapa tahun lalu, ketika Gus Dur silaturahmi ke kediaman KH. Ma’ruf Islamudin.

Apa yang diramalkan Gus Dur itu akan menjadi kenyataan dengan terus menggunakan pola gotong-royong dan nilai-nilai luhur masyarakat nusantara seperti tradisi “jimpitan” yang digemakan oleh Buya Basith di Sukabumi dengan menyisihkan uang belanja 2,5%.

Pola tersebut kemudian dikembangkan dan disempurnakan oleh KH Ma’ruf Islamuddin yang memunculkan gerakan KOIN (Kotak Infaq) NU Sragen yang saat ini berhasil mengelola hasil KOIN NU seperti Klinik Kesehatan, Jasa Travel NUtrans, Bedah Rumah, Perbaikan Rumah Ibadah, Perbaikan Penerangan Jalan, Peternakan Kambing, dan masih banyak item lainnya.

Ketika acara Rakornas NU Care-LAZISNU yang diselenggarakan di Pesantren Walisongo Sragen, Rais ‘Aam PBNU KH Ma’ruf Amin juga menegaskan bahwa peran LAZISNU dalam pemberdayaan umat harus terus digalakkan. Kiai Ma’ruf menyebut ada dua peran yang harus dilakukan oleh LAZISNU. Pertama, LAZISNU harus berperan dalam rangka meningkatkan kemandirian ekonomi umat dengan dana yang bisa dikelola dengan baik. Kedua, memberikan pelayanan seperti melalui klinik (rumah sakit) dan melalui pendidikan.

Dalam hal ini, Rais ‘Aam selalu mengingatkan akan terwujudnya “Arus baru kemandirian ekonomi NU” yang harus diwujudkan. Arus baru artinya secara perlahan tidak lagi mengandalkan arus lama yang lebih berpihak kepada para pemodal, kapitalis yang keuntungannya sulit dirasakan oleh masyarakat bawah. Oleh karena itu, arus baru ini menurutnya sangat tepat karena berasal dari masyarakat, dikelola oleh masyarakat dan dimanfaatkan oleh masyarakat sendiri melalui gerakan KOIN NU.

Sebagaimana juga yang disampaikan oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj saat Rapat Syuriah-Tanfidziyah PBNU di Gedung PBNU lantai 8, Selasa (6/3/2018) bahwa masyarakat perlu menggalakkan gerakan KOIN NU. Buya Said menegaskan gerakan masyarakat tersebut harus selalu meningkat dari tahun-tahun sebelumnya.

Gerakan KOIN NU yang juga telah diresmikan oleh Buya Said pada bulan April tahun 2017 itu diharapkan menjadi spirit baru warga Nahdliyin untuk berdaya di bidang ekonomi. Sehingga adanya KOIN NU ini menjadi cara utama, solusi utama, program andalan, untuk mewujudkan arus baru kemandirian ekonomi Nusantara.

Setelah dimanage dengan baik, gerakan KOIN NU mampu menyajikan portofolio yang nyata tentang pola kemandirian ekonomi  warga NU seperti adanya BMT Jawa Timur yang mengelola omzet hingga 1,2 triliun. Dengan semangat itulah hasil Rakornas NU Care-LAZISNU-II di Sragen mewajibkan pendirian 400 cabang BMT di seluruh tanah air. Hal ini akan menjadi suatu arus ekonomi yang luar biasa apabila BMT-BMT di seluruh tanah air mampu menjadi solusi untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat Nahdliyin di akar rumput.

Dalam acara “Launching Lembaga Pemberdayaan Umat” yang akan dihadiri oleh Presiden Joko Widodo dan Rais ‘Aam PBNU KH Ma’ruf Amin di Pesantren An-Nawawi Tanara, Banten, Rabu (14/3/2018) juga akan sekaligus menjadi moment “Pelepasan KOIN NU Raksasa” yang akan dikirapkan se nasional.

KOIN NU Raksasa akan dikirabkan secara nasional dimulai dari Provinsi Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Timur. KOIN NU diharapkan bisa menjadi portofolio kemandirian ekonomi yang digalakkan oleh NU Care-LAZISNU sehingga bisa diadopsi dan menjadi percontohan lembaga pemberdayaan umat di seluruh Indonesia.

Gerakan KOIN NU ini adalah bukti bahwa semangat kebersamaan, semangat gotong-royong, semangat kerjasama masyarakat telah menjadi ruh dan semangat juang untuk bersama-sama mewujudkan arus baru kemandirian Ekonomi Nusantara.

Untuk berdaya dalam bidang ekonomi semua pihak harus bergerak, tidak bisa hanya membebankan “tugas” pada salah satu pihak. Gerakan masyarakat adalah gerakan paling efisien untuk melakukan perubahan. Termasuk perubahan arus kemandirian ekonomi NU yang dimulai dari gerakan akar rumput Nahdliyin dengan gerakan KOIN NU.

*Direktur Fundraising NU Care-LAZISNU, Penulis Buku Membumikan Sedekah, Ketua Syuriah PCI NU Hongkong*

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *