POIN SILATURRAHIM GRAND SYAIKH AL AZHAR PROF.DR. AHMED AL THAYYEB KE KANTOR PBNU

Rabu, 02 Maret 2018 Grand Syaikh Al Azhar, Mesir, Prof. Dr. Ahmed Al Thayyeb berkunjung ke kantor PBNU, Rabu (2/5). Kunjungan ini merupakan rangkaian agenda High Level Consultation of World Moslem Scholars on Wasatiyyah Islam di Bogor, 1-4 Mei 2018. Grand Syaikh datang tepat pukul 18.00 WIB ditemani mantan Ketua Organisasi Internasional Alumni Al Azhar Indonesia, Prof. Dr. Quraish Shihab. Setibanya di halaman gedung PBNU, Mufti Besar Mesir ini langsung disambut oleh Ketua Umum PBNU, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, Sekjen PBNU Dr. H. Helmy Faishal Zaini, dan Ketua PBNU KH. Marsudi Syuhud.

Grand Syaikh beserta rombongan lantas diterima di ruang Ketua Umum PBNU di lantai 3 Gedung PBNU. Sekitar 15 menit Ketua Umum PBNU memberikan pengantar dan ucapan selamat datang. Acara resmi pukul 18.15 WIB di gelar di Aula PBNU di lantai 8. Di ruangan berskala 500 audience ini Grand Syaikh disambut dengan sholawat badr. Acara silaturrahim Grand Syaikh Al Azhar dengan kiai dan warga nahdliyyin kemudian diawali dengan pembacaan alfatihah, dilanjutkan dengan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Ya Lal Wathon.

Mengawali dialog, Ketua Umum PBNU Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj sedikit memberikan pengantar dengan menceritakan kronologis sejarah berdirinya Nahdlatul Ulama. Kyai Said juga memaparkan keberadaan badan otonom dan lembaga yang bernaung dibawah Nahdlatul Ulama. Sementara Grand Syaikh Al Azhar menyampaikan beberapa poin, diantaranya :

  1. Ucapan terima kasih atas undangan Nahdlatul Ulama dalam rangka memperkuat silaturahim tokoh-tokoh agama.
  2. Grand Syaikh memaparkan pandangan moderat Al Azhar di dalam pemikiran agama dan konsep-konsep bernegara.
  3. Grand Syaikh menegaskan bahwa adanya perbedaan-perbedaan hendaknya menjadi perekat umat Islam. Kita umat Islam, menurut Grand Syaikh sudah diajarkan oleh rasulullah bahwa perbedaan itu akan menjadi rahmat ketika direspon dan disikapi dengan bijak dan tepat.
  4. Al Azhar akan mendorong penguatan Islam moderat yang dilakukan NU. Dan akan bersama-sama dalam memberikan penguatan dan mengkampanyekan Islam moderat di dunia.
  5. Grand Syaikh menyambut baik rencana kegiatan bersama NU dan al Azhar serta siap memberikan bea siswa kepada santri berprestasi untuk studi di Al Azhar khususnya di jurusan umum bagi perempuan. Termasuk di dalamnya terkait rencana pelaksanaan konferensi internasional bersama.

Baca juga: Program Rumah Sakit NU Menjadi Impian Warga Sragen

Poin Dialog dengan Grand Syaikh Al Azhar

Selanjutnya, Grand Syaikh Al Azhar berkesempatan berdialog dengan peserta.

1. Bagaimana Grand Syaikh menilai tentang politisasi agama?

Jawaban Grand Syaikh: Politisisasi agama jika tidak dipahami dengan benar akan menimbulkan dua kerugian; pertama kerugian agama yang menjadi jelek. Dan kedua, juga politik yang menjadi buruk.

2. Bagaimana pandangan Grand Syaikh tentang kelompok yang ingin mendirikan khilafah di dunia?

Jawaban Grand Syaikh: Tentang khilafah islamiyah bahwa dunia sepakat menolak khilafah islamiyah.

Maka itu sangat sulit untuk terjadi. Hal ini karena masing-masing banyak perbedaan yang sudah tertanam. Adanya perbedaan bagi Grand Syaikh justru menjadi keindahan agama Islam.

3. Apakah yang terjadi saat ini ketika ada kelompok islam yang menuduh kafir diluar kelompoknya?

Jawaban Grand Syaikh: Gerakan radikalisasi dan takfirisasi, mengkafir-kafirkan orang lain itu merupakan kebodohan terhadap memahami ruh dan substansi agama. Grand Syaikh dengan tegas mengaku menolak pemahaman agama yang memonopoli kebenaran.

4. Bagaimana menyikapi perkembangan media sosial yang dijadikan benih perpecahan?

Jawaban Grand Syaikh: Kita harus bersama-sama memberikan penguatan moderat islam melalui media sosial. Karena jika tidak di manage dengan baik, media sosial akan menjadi penghancur bagi kedamaian.

Demikian beberapa poin silaturrahim dan poin dialog bersama Grand Syaikh Al Azhar di gedung PBNU. Semoga bermanfaat, salam.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *